Tanggal Hari Ini : 25 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Online Store ‘Modal Kecil Untung Berlipat’
Kamis, 20 Oktober 2011 09:35 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Mulanya tahun 2005 Vidia Chairunisa (24) adalah pebisnis perhiasan mutiara. “Proses pembuatannya di daerah NTB karena bahan bakunya memang tersedia di sana sehingga harga jualnya menjadi tinggi. Strategi pemasarannya kami lakukan melalui pameran ke pameran di berbagai tempat,”tutur wanita enerjik ini.

Setelah empat tahun mengandalkan pemasaran melalui pameran, wanita yang biasa di sapa Vidi ini mulai merasa jenuh dan berencana untuk membuka gallery sendiri. “ Akhirnya saya dan suami survey mencari lokasi di Bandung. Tanpa sengaja saat mencari lokasi saya melihat banyak tas-tas wanita yang bagus di jual. Tanpa  berfikir panjang sayapun membeli tas tersebut sebanyak 16 buah seharga Rp 800 ribu,”aku isteri dari M. Akhyar Rosyidi ini.

Pemasaran Secara Online

Akhirnya tas tersebut di pasarkan Vidi bersamaan dengan mutiara dagangannya. “Ternyata tas yang saya beli tadi habis terjual. Akhirnya saya membeli lebih banyak lagi dan terus habis terjual. Pendapatan penjualan tas ternyata lebih banyak ketimbang mutiara,”papar Vidi. Melihat gelagad tersebut, tahun 2009 akhirnya wanita berkerudung ini lebih memilih berbisnis tas ketimbang mutiara.

Agar pendapatan yang diperoleh lebih banyak Vidipun memutuskan untuk memproduksi tas sendiri. “Saya ajak perajin tas di daerah Garut dan Bandung bekerjasama. Desain dari saya mereka yang membeli bahan dan menjahitnya,”tutur alumni IPB ini. Dalam mendesain tas Vidi mengaku menggunakan strategi ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Jadi saya tidak pernah mencontek secara utuh desain orang lain. Saya hanya mengamati saja produk orang lain yang sedang tren, lantas saya tiru lalu saya modifikasi sendiri. Karena target market saya adalah remaja wanita, desainnya saya buat unik dengan warna-warna ceria menggunakan bahan sintetis,”aku wanita yang memiliki hobi traveling dan menonton TV ini.

Ternyata tas yang diberi merek Gembool ini laris di pasaran. “Semakin hari pelanggan saya semakin banyak,”ungkap  wanita kelahiran Banyuwangi, 22 Desember 1986 ini. Namun meski usaha yang dijalaninya semakin berkembang, lama-kelamaan Vidi merasa lelah. “Meski barang habis terjual, tapi keuntungan yang saya peroleh tidak seberapa karena keuntungan habis untuk membayar sewa tempat,”keluhnya.

Akhirnya putrid dari Sugiarto inipun mencari alternative pemasaran lain. “Belakangan ini orang-orang sedang tren dengan FB Face Book. Saya melihat ada peluang di situ, lantas saya mendaftar dan mulai memasarkan melalui FB. Saya foto tas-tas buatan saya dan saya sebarkan pada teman-teman saya. Ternyata tanggapan mereka bagus, pertama-tama sehari omzet bisa sampai Rp 300 ribu, lalu terus meningkat sampai rp 2 juta setiap harinya. Saya berfikir, lebih baik memasarkan secara online, tenaga dan modal yang dikeluarkan sedikit tapi untung lebih banyak.  Orang-orang tidak akan menawar lagi, cukup dikasih diskon sedikit, pelanggan sudah senang,”jelasnya.

Melihat peluang besar tersebut, wanita ramah inipun memutuskan untuk memasarkan secara online. “Saya menghayer SDM khusus mengatur pemasaran secara online,”paparnya. Strategi Vidi ternyata berhasil, pelanggannya tidak hanya dari pulai Jawa saja tapi hamper seluruh daerah Indonesia bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia dan Australia. “Kalau Australia biasanya digunakan sendiri tapi kalau Malaysia, mereka membeli dalam partai besar karena untuk di jual lagi,”katanya bangga.

Kini Vidi tak hanya memasarkan tas saja tapi mulai memproduksi dompet dan tas khusus wanita karier dan ibu rumah tangga. Harga yang di tawarkan Vidi mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu. Saat ini setiap minggunya Vidi mengaku menghabiskan dana sebesar Rp 20 juta untuk memprodusi tas dan dompet. “Setiap bulan, saya mengeluarkan dua model baru. Tujuan saya untuk mengatasi kejenuhan dari pelanggan dan mengatasi persainan,”kilahnya.

Untuk memenuhi keinginannya tersebut, Vidipun membuat proposal untuk mendapatkan modal  pada DPKHAM yang diadakan oleh IPB dan Perum Pengadaian. “Saya mendapat bantuan modal sebesar Rp 8 juta secara cuma-cuma. Dana ini tidak diberikan berupa dana tapi dalam bentuk barang. Rencananya Pengadaian akan memberikan bahan baku tas sebesar Rp 8 juta pada saya. Dengan begitu saya berharap bisa mengembangkan usaha saya,”Harap Vidi.

Sementara itu, melalui strategi yang dilakukan Vidi, setiap bulannya rata-rata wanita mengusung kiat berbisnis E= MC2 (Entrepreneur = Mulai Cepat-cepat) ini mampu meraup omzet antara Rp 150 hingga Rp 180 juta.  Tapi, meski omzet yang diperoleh terus meningkat, bukan berarti dalam berbisnis Vidi tidak pernah mengalami masalah. “Kendala itu datangnya justeru dari SDM. Kadang pengrajin mengambil pesanan banyak sehingga kualitas produk kita menurun atau kadang-kadang tidak mengerjakan pesanan kita. Untuk mengatasi kendala tersebut, saya menggunakan system karyawan tetap. Selain itu saya juga memberikan bonus pada SDM agar mereka loyal,”tutur Vidi.

Kedepan Vidi berencana untuk memasarkan usahanya secara offline dengan cara membuka gallery di daerah Jakarta, Surabaya dan Makassar. “Pelanggan saya lebih banyak di tiga daerah tersebut. Selain itu tujuan saya untuk menghemat biaya pengiriman barang. Selama ini ongkos kirim untuk keluar daerah cukup mahal. Padahal pelanggan saya juga banyak di luar daerah dan luar negeri. Dengan membuka cabang di tiga kota ini, bila ada pesanan dari luar daerah, saya bisa mengirim melalui cabang yang terdekat agar ongkos kirimnya lebih murah,”pungkas Vidi.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari